Catatan Pengembara

Tantrum Perlu Diatasi Bagian 1

0
Posted in Parenting By Poselver ada

Sore itu, Sheila tengah berjalan-jalan di mal bersama sang mama. Saat melewati toko mainan, ia tertarik dengan teddy bear yang dipajang di sana. Lantaran di rumah sudah punya banyak boneka, mamanya menolak membelikannya. Jadilah gadis cilik 2,5 tahun ini menangis, menjerit sambil bergulingguling di lantai. Mama, Papa, apa yang dilakukan Sheila itulah yang disebut tantrum. Perilaku marah ini umumnya terjadi lantaran ketidakmampuan anak mengungkapkan keinginan dengan kata-kata. Energi yang dikeluarkan saat tantrum amat besar. Tak heran anak sampai berteriak-teriak dan menangis sewaktu melampiaskan emosinya.

ADA BATAS KEWAJARAN

Tantrum umum terjadi pada batita (1—3 tahun), lalu frekuensinya akan menurun saat usia anak 3—4 tahun. Lamanya tantrum biasanya 10—15 menit, tergantung pada energi anak pada saat itu. Meski hampir semua anak pernah tantrum, perilaku ini tetap memiliki batas kewajaran. Tantrum yang terlalu intens/ sering dan lebih dari 15 menit, bahkan untuk masalah-masalah sepele (misal, tak dibelikan permen), sudah melebihi batas.

Tantrum juga tidak wajar jika si kecil sampai membahayakan diri sendiri. Seperti, membenturkan kepala ke tembok, membanting diri ke lantai, menendang orang-orang di sekitarnya, dan hal-hal lain yang menyakiti diri sendiri atau orang lain. Bila hal ini terjadi, kita perlu segera mencari solusi. Mengapa, bukankah tantrum adalah perilaku umum pada balita? Betul, namun tanpa ada penanganan yang baik, selain eskalasi tantrum bisa meningkat, dikhawatirkan tantrum berkembang menjadi kebiasaan yang akan memengaruhi karakter/sifat anak. Pada akhirnya, tantrum bisa terbawa hingga anak besar. Anak pun semakin sulit mengontrol emosi dan beradaptasi dengan lingkungannya.

PERHATIAN DAN KASIH SAYANG

Yang perlu diketahui, tantrum berlebihan biasanya dipicu oleh keadaan lingkungan rumah yang tidak mendukung. Kurangnya perhatian pada anak dan kasih sayang, misal. Atau cara-cara mendisiplinkan yang tak konsisten, orangtua sering mengkritik, atau justru terlalu protektif. Persaingan antar saudara, keterampilan berbahasa yang tidak terasah, atau anak menderita penyakit tertentu juga berpotensi memicu tantrum. Akumulasi ketidakpuasan pada diri anak juga bisa kemarahannya meledak menjadi tantrum. Penyebab lain yang lebih sederhana adalah rasa lapar atau lelah. Ini sebenarnya yang paling sering terjadi. Namun tantrum jenis ini umumnya tidak lama. Kalau sudah kenyang atau sudah beristirahat, anak akan menjadi tenang.

Simak juga situs parenting dan pendidikan anak untuk informasi dan tips lebih lanjut mengenai merawat dan mendidik anak dengan baik.

Leave a Reply