Catatan Pengembara

Hot Issue – Jaringan Telko Kita Rawan Sadap

0
Posted in Bisnis By Poselver ada

Hot Issue – Jaringan Telko Kita Rawan Sadap

KETIKA banyak negara di dunia panas dingin akibat ulah Amerika Serikat yang menyadap lingkaran pertama (Ring 1) pemimpin negara itu, Indonesia tenangtenang saja. Apa yang diungkapkan pegawai paruh waktu badan keamanan nasional (NSA) Amerika Edward Snowden (yang kini ngumpet di Rusia), tidak membuat para pemimpin kita gerah. Reaksinya normatif, sekadar menyesalkan, walaupun tetangga terdekat Australia juga melakukan hal sama. Kalaupun nadanya keras, ketus dan terkesan marah besar, tak ada kelanjutannya, karena tampaknya semua hanya untuk pencitraan.

Baca Juga : Status Wa

Jaringan mata-mata yang melakukan penyadapan, sudah ada sejak zaman telepon kabel, ketika mikrofon dipasang di hook telepon, atau di pot bunga, atau di langit-langit. Ada cerita ketika Bung Karno (BK) bepergian ke Eropa, dan stafnya membuka rahasia. Mereka tahu bahwa kamar hotel BK disadap, dan mereka sengaja membicarakan topik ingin merasakan makanan tertentu. Ternyata siang harinya makanan yang dihidangkan persis seperti yang diinginkan presiden. Sejak zaman BK hingga zaman SBY, penyadapan oleh agen spionase asing dianggap sebagai sesuatu hal yang lucu. Bahkan penyadapan bisa jadi dianggap menaikkan citra karena merasa posisi mereka di dunia penting sehingga perlu disadap.

Penyadapan saat ini tidak dengan memasang mikrofon di gagang telepon, tidak ditaruh di bawah meja, sebab sudah dianggap kuno. Penyadapan tidak saja lewat sistem di sentral atau BTS (base trasceiver station), tetapi juga masuk ke sistem penagihan (billing) tanpa operator tahu. Barack Obama sangat menyukai BB yang disarankan oleh aparat keamanan presiden untuk tidak digunakan lagi karena rentan disadap. Barry ngotot sehingga akhirnya dipasang server khusus untuk Ring 1, BB-nya pun khusus untuk Presiden yang enkripsinya (pengacakannya) dilakukan secara cermat dari ujung ke ujung, yang selalu diperbarui secara periodik.

Masih belum cukup. Kalau Presiden Obama akan melakukan pembicaraan telepon yang sangat rahasia (classified, top secret), ia akan masuk satu bilik yang mirip telepon umum yang steril dari gelombang elektromagnetik dan elektro akustik. Barry tidak menelepon dari mejanya, atau ber-conference call dengan para menteri dari telepon kantornya, karena khawatir disadap. Malware di jaringan dan ponsel Itu di Gedung Putih yang sudah dianggap super-super steril. Mereka menyadari bahwa penyadapan merupakan satu keniscayaan yang harus diwaspadai dan ditangkal sedini mungkin. Di kawasan Ring 1 Indonesia, penyadapan dilakukan dengan amat mudah, karena pengawasan teknis telekomunikasinya sangat tidak canggih. Ketika isu penyadapan muncul ke permukaan, Menteri Kominfo Tifatul Sembiring muncul dengan ancaman, siapa pun operator yang terlibat penyadapan akan ditindak tegas.

Tak lama semua operator bilang, layanan dan jaringan mereka 99,9 persen aman dari penyadapan. Mereka sudah mengecek ke semua jaringan yang mereka operasikan dan tidak mendapati adanya upaya penyadapan, demikian pula laporan para vendor jaringan, semisal Huawei, Ericsson, dan Nokia-Siemens, semua “bersih”. Vendor jaringan pasti akan mengonfirmasi bahwa jaringan Mantan Wartawan Kompas, kini Editor Ahli Sinyal mereka aman, bebas dari upaya penyadapan. Tetapi Australia tidak pernah mengizinkan Huawei, vendor dari Shenzen, Tiongkok, menjadi vendor operator dalam negeri dan menggelar jaringan di negara itu. Alasannya, karena diketahui Huawei menanamkan malware (perangkat yang jahat) untuk penyadapan di jaringan atau consumer premises (peralatan milik pelanggan) seperti ponsel atau tablet yang dijualnya.

Atau malah sebaliknya, Huawei menolak penguasa Australia menanamkan malware di jaringan yang akan digunakan, dengan akibat ditolak masuk. Di Indonesia, Huawei menguasai lebih dari separuh pangsa pasar jaringan seluler. Manufaktur telekomunikasi dari Tiongkok itu pun menguasai perawatan setidaknya seperempat jaringan seluler Indonesia Hati-hati kalau ponsel panas Vendor jaringan di Indonesia pasti akan mengatakan jaringan dan peralatan pelanggan yang mereka jual aman dari upaya penyadapan. Padahal malwaremalware untuk penyadapan sudah tertanam sejak ada di pabrik, meski bisa juga ditanam belakangan, dan jika dicek secara teknologi, modul itu tidak muncul.

Malware demikian bisa diaktifkan jika dibutuhkan dan “ditidurkan” tanpa terdeteksi jika sedang tidak dibutuhkan. Itu sebabnya, bisa saja ketika pemerintah atau operator meminta ada pengujian teknis, semua tampak bersih. Tidak hanya lewat modul yang tertanam. Operator, apalagi pelanggan yang awam, tidak pernah tahu apakah ada BTS (base transceiver station) yang ditanami alat tertentu untuk penyadapan. Padatnya lalu lintas transmisi yang ditangani operator, membuat mereka terkadang tidak sadar ada BTS yang tidak diketahui asal muasalnya, sejalan dengan banyaknya BTS bergerak (mobile BTS) yang dioperasikan. Belum pernah ada jaminan bahwa BTS di Ring 1, di sekitaran Medan Merdeka Jakarta tempat berkantornya Presiden, Wakil Presiden dan beberapa menteri, bebas dari penanaman alat penyadap secara ilegal. Apalagi jika perawatan jaringan dikerjakan oleh pihak ketiga, yang misalnya juga menjadi vendor jaringan.

Dari sisi pelanggan, adanya penyadapan atau penanaman alat tertentu, sebenarnya bisa terasa. Paling penting, jangan mudah menekan “yes” untuk tawaran upgrade perangkat lunak over the air dari pabrikan ponsel, karena – meskipun tidak selalu – ini bisa jadi salah satu pintu masuk penyadapan, dan tawaran belum tentu asli datang dari pabrikan. Hati-hati jika ponsel kita tiba-tiba panas tanpa sebab atau panas setelah di-upgrade. Matikan ponsel segera, cabut baterenya, karena bisa jadi sedang terjadi penanaman malware.

Leave a Reply