Catatan Pengembara

Museum Masjid Agung Demak

0
Posted in Wisata By Poselver ada

Demak yang juga dikenal sebagai Kota Wali, terletak di sebelah Timur Kota Semarang.

Demak dilalui jalur pantura yang menghubungkan Jakarta – Semarang – Surabaya – Banyuwangi.

Jika kamu dalam perjalanan panjang di jalur ini untuk mudik atau berwisata Semarang, kamu bisa berhenti di Masjid Agung Demak untuk melaksanakan ibadah shalat atau beristirahat.

Masjid Agung Demak menjadi cikal bakal berdirinya Kerjaan Islam, sebagai cagar budaya peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak.

Di kompleks Masjid yang tertua di Pulau Jawa ini, terdapat sebuah museum.

Meskipun bangunannya tidak terlalu besar, Museum Masjid Agung Demak menyimpan benda arkeologi sebagai bukti khasanah budaya zaman Wali Songo yang memiliki nilai historis perkembangan Islam secara nasional pada umumnya dan Demak pada khususnya.

Di meseum ini, kamu bisa melihat guci hadiah Putri Campa zaman Dinasti Ming abad XIV, Kentongan dan Bedug Wali abad XV, juga benda-benda purbakala lainnya seperti prasasti, gambar-gambar macam Dampar Kencana, Maksurah atau Kholwat.

Surya Majapahit yang aslinya masih dapat dilihat di dalam masjid yang monumental peninggalan Glagahwangi Bintoro Demak dari tahun 1478 – 1560 M di bawah pemerintahan Raden Fatah – Raden Patiunus – Raden Trenggono.

Di sini kamu juga bisa melihat bekas kusen Pintu Bledeg (petir) yang dibuat oleh Ki Ageng Selo pada zaman Wali.

Konon beliau yang memiliki kesaktian itu dapat menangkap petir, kemudian daun pintu yang terletak di tengah Masjid itu dinamakan “Pintu Bledeg”.

Konon, pintu bledeg ini merupakan Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 saka atau 1466 Masehi atau 887 Hijriah, yang diprediksi sebagai tanda peletakan batu pertama pembangunan masjid.

Di tengah museum, terdapat kayu jati besar yang sudah terlihat rapuh yang merupakan bekas tiang utama masjid atau soko guru dari Sunan Kalijaga – Kadilangu Demak, Sunan Bonang – Tuban, Sunan Gunung Jati – Cirebon dan Sunan Ampel – Surabaya.

Empat batang soko guru ini dikonservasi oleh proyek pemugaran dari pemerintah Republik Indonesia dan Organisasi Konferensi Islam 1983 – 1986 M.

Empat tiang utama masjid tersebut menggambarkan, betapa para Wali menerima agama Islam bersumber dari ajaran Syafi’iyah (Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah), sebagai implementasi Iman, Islam dan Ihsan sebagai landasan karakter umat dan bangsa.

Selain itu, kamu juga bisa menemukan Al-Qur’an tulis tangan, alap-alap samber nyowo, tongkat kayu telentang dan dua buah paku Masjid Agung Demak tahun 1721 M atau Paku Buwono I.

Anda bisa jadwalkan mungunjungi museum ini untuk menambah pengetahuan dan wawasan juga mengisi waktu saat liburan di Semarang ketika lebaran nanti.

BACA JUGA:

Tempat wisata jogja

Wisata pantai watulawang

SUMBER: Hello Semarang

Leave a Reply