Catatan Pengembara

Keutamaan Jima’ di Malam Jumat dan Doa yang Dianjurkan Nabi

0

Ilustrasi pasangan suami istri usai ijab qobul. Islam adalah agama yang sempurna karena melingkupi segala hal. Tak hanya mengatur ibadah vertikal (ibadah mahdhah) seperti shalat, puasa dan haji. Lebih dari itu, Islam yang dibawa Nabi Muhammad¬†shallallahu ‘alaihi wa sallam¬†juga mengatur urusan antara manusia (hablum-minannas).

Kita patut bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah memerintahkan hamba-Nya untuk menikah dan melarang melakukan zina. Adapun pembahasan kali ini adalah keutamaan waktu berjima’ dan doa yang diajarkan oleh syariat.

Dalam syariat Islam, jima’ atau hubungan badan suami istri adalah ibadah bernilai sedekah dan diganjar pahala bagi yang mengerjakannya. Namun, sebelum melakukan jima’, setiap muslim harus mengetahui ilmunya termasuk adab dan etikanya.

Dari Abu Dzar Al-Ghifari, Nabi SAW bersabda, “Hubungan badan antara kalian (dengan istri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah.

Para sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa.

Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala. (HR Muslim)

Dalam Kitab Qurrotul ‘Uyun (penyejuk mata) karya Syeikh Muhammad at-Tahami Ibnu Madani yang kemudian ditulis sebagai syarah (uraian penjelasan) oleh Ibnu Yamun” dijelaskan secara rinci keutamaan waktu berjima’.

Ibnu Yamun mengatakan bahwa diperbolehkan melakukan jima’ di setiap waktu, baik malam maupun siang sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS Al-Baqarah: 223).

Akan tetapi, jima’ dengan istri di awal malam itu lebih utama. Kemudian Ibnu Yamun menjelaskan malam-malam yang disunahkan untuk berjima’. “Malam Jum’at juga malam Senin karena di dalamnya ada keutamaan yang tak diragukan,” jelasnya dalam kitab tersebut.

Ibnu Yamun menjelaskan, disunahkan jima’ di malam Jum’at karena malam Jum’at adalah malam yang paling utama dalam satu minggu. Nabi SAW bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada orang yang ia menyebabkan orang lain mandi wajib dan ia pun mandi wajib”.

Imam Suyuti juga berkata: “Dan hadits itu menguatkan akan hadits: “Apakah tidak mampu salah seorang kalian untuk menjima’ istrinya di setiap malam Jum’at. maka sesungguhnya ia akan mendapatkan dua pahala. Pertama pahala ia mandi besar (wajib), dan yang kedua pahala mandi besar istrinya. (Riwayat Imam Baihaqi dalam Kitab Su’bul iman dari hadisnya Abi Hurairah RA).

Selain malam Jum’at, pasangan suami istri juga disunnahkan jima’ di malam Senin karena ada keutamaan yang lebih di dalamnya.

Doa Ketika Hendak Jima’ (Senggama)


Bagi yang hendak melakukan jima’ hubunagan badan suami istri (senggama), dianjurkan membaca doa ini. Namun, sebelum berjima’ disunnahkan berwudhu dan salat sunnah 2 rakaat. Doa ini terdapat di dalam Kitab Shahih Bukhari:

“Bismillahi Allahumma Jannibnassyaithoona wa Jannibissyaithoona Maa Rozaqtana”.

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami, dan jauhkanlah setan dari sesuatu yang telah engkau rizqikan kepada kami”.

Maka, apabila dari persenggaman itu Allah takdirkan lahirnya anak, maka setan tidak akan mampu mencelakakan (menjerumuskan) anak itu.

Kemudian Imam Al-Ghozali dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin: “Disunnahkan bagi yang hendak senggama, hendaklah ia memulai dengan membaca basmalah, kemudian membaca surat Al-Ikhlas dengan tidak membaca takbir dan tahlil. Kemudian ia membaca doa:

“Bismillahil Aliyil ‘Adzimi. Allahumma’jalhaa Zurriyyatan Toyyibatan in Kunta Qoddarta an Takhruja Dzaalika min Sulbi.”

Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Besar lagi agung. Ya Allah, jadikanlah istriku ini penyebab adanya keturunanku yang baik. Apabila engkau memastikan keturunan itu keluar dari tulang rusukku”.

Leave a Reply