Catatan Pengembara

Parenting Archive

BANGUN KOMUNIKASI Penangangan tantrum bisa dimulai dengan usaha kita untuk mengenal lebih baik sifat dan karakter anak. Pendekatan ini bisa membuat si kecil merasa diterima. KIta pun makin memahami keinginannya walau komunikasi batita masih terbatas. Mengevaluasi kembali kebutuhan anak yang tidak terpenuhi, kemudian membangun pola komunikasi yang lebih baik, juga amat disarankan. Fokus penanganan tantrum akan lebih efektif dengan meminimalisasi faktor-faktor penyebab sehingga diharapkan frekuensinya secara otomatis berkurang. Beberapa hal yang dapat meminimalisasi penyebab tantrum, antara lain: 1. Usahakan kita selalu mengetahui apa yang dibutuhkan anak. Contoh, sebelum bepergian, apalagi untuk perjalanan panjang, siapkan makanan/kue kecil agar anak tidak kelaparan. Ingat, tantrum terjadi lantaran batita masih sulit mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Untuk itulah observasi orangtua dalam mengenal faktorfaktor yang bisa memicu munculnya tantrum amat dibutuhkan. [&hellip

Read Post

Sore itu, Sheila tengah berjalan-jalan di mal bersama sang mama. Saat melewati toko mainan, ia tertarik dengan teddy bear yang dipajang di sana. Lantaran di rumah sudah punya banyak boneka, mamanya menolak membelikannya. Jadilah gadis cilik 2,5 tahun ini menangis, menjerit sambil bergulingguling di lantai. Mama, Papa, apa yang dilakukan Sheila itulah yang disebut tantrum. Perilaku marah ini umumnya terjadi lantaran ketidakmampuan anak mengungkapkan keinginan dengan kata-kata. Energi yang dikeluarkan saat tantrum amat besar. Tak heran anak sampai berteriak-teriak dan menangis sewaktu melampiaskan emosinya. ADA BATAS KEWAJARAN Tantrum umum terjadi pada batita (1—3 tahun), lalu frekuensinya akan menurun saat usia anak 3—4 tahun. Lamanya tantrum biasanya 10—15 menit, tergantung pada energi anak pada saat itu. Meski hampir semua anak pernah tantrum, perilaku ini tetap memiliki [&hellip

Read Post

Itulah mengapa, Papa menjadi sosok penting dalam mewujudkan “True Love”. Papa yang peduli, perhatian, dan menjaga komunikasi, cenderung menjadikan anak berkembang lebih mandiri, kuat, dan memiliki pengendalian emosi yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki Papa seperti itu. Prof. dr. Bruce Ro-binson, PhD, melakukan penelitian mengenai ­ figur ayah terhadap anaknya di Australia semenjak awal 90-an. Dari penelitian tersebut Bruce menemukan hubungan yang jelas antara peran ayah dan apa yang kemudian terjadi pada seorang anak ketika dia tumbuh dewasa. Setelah hampir 20 tahun, penelitian ini membuahkan hasil yang cukup mengejutkan. Ternyata, ­ figur ayah berperan sangat penting dalam memengaruhi perkembangan mental dan stabilitas emosi anak. Hubungan yang berkualitas antara ayah dan anak, mampu mengurangi risiko seorang anak terpengaruh obatobatan terlarang sampai 50%, mengurangi hingga [&hellip

Read Post

Penggalan lirik lagu “Cinta Yang Tulus” dari Gito Rollies di atas, kiranya bisa membawa kita memahami maksud dan makna “True Love”. Soalnya, cinta sejati tidak bisa dihara­ ahkan, namun bisa kita lakukan dan rasakan. Seperti yang dinyanyikan Gito, jika mencintai dengan ketulusan hati, seseorang akan memberikan dirinya dengan tulus dan akan menerima orang lain dengan tulus pula. Kesehariannya penuh kesabaran, mau mengalah, mampu membuat keadaan menjadi tenteram. Dengan itu semua, tidak hanya dirinya, orang lain di sekitarnya pun; pasangan, anak-anak, keluarganya, akan merasa bahagia, bangga, dan penuh semangat. LEBIH DARI SEKADAR MATERI Makna cinta sejati memang teramat dalam. Ia muncul ke permukaan dalam bentuk ucapan, tingkah laku, tatapan, dan keyakinan, langsung dari inti manusia, dari lubuk hati yang paling dalam. Dalam cinta sejati ada kesediaan [&hellip

Read Post